Belajar untuk Memahami Diri Sendiri

Jadi ya, rasanya kalau ini adalah mata kuliah, saya rasa, saya akan mengulang pelajaran ini untuk kesekian kalinya dan nggak lulus-lulus. Mungkin kalaupun lulus nilainya juga nggak bakalan bagus. Fail lah…

Sejujurnya kalau saya coba berdiri menjadi orang lain dan melihat diri saya sendiri, pasti saya udah putus asa duluan trus ngomel, “Mau kamu apa sih, Li?”

Selain punya banyak film di kepala yang tiada habisnya, mimpi yang kadang kehabisan napasnya sebelum direalisasikan, saya pikir yang paling menyulitkan itu adalah saya orangnya overthinking dan parnoan. Segala segala dipikirin, segala segala ditakutin.

Pengeeen gitu, kayak orang lain yang hidupnya bodo amat, atau nggak mikir kebanyakan, nggak takut kebanyakan. Tapi kok ya belum juga berhasil.

Belakangan ini, dengan perubahan hidup yang saya miliki, saya ketakutan dan banyak mikir yang enggak enggak. Saya takut gagal, saya takut nggak bisa menerima kenyataan kalau ternyata kegagalan itu terjadi, saya takut nanti orang bakalan ngomongin saya gini dan gitu, saya nggak tahu sebaiknya saya berbuat yang mana – yang ini saja atau yang itu juga.

Semuamuanya saya pikirin dan saya takutin. Rasanya suam saya juga bosen sama cerita atau pertanyaan-pertanyaan saya yang datang tiap hari ke dia ya, hahaha…

Lalu sampai tadi malam, saya berpikir, ya udahlah ya saya mencoba untuk menulis di blog saja dan menguraikan satu persatu ketakutan, kekhawatiran dan pikiran berlebihan yang saya miliki. Katanya, menulis ini ‘kan sebagian dari cara orang mengungkapkan kegelisahan dan bisa melepaskan ketegangan. Harapannya sih semoga saya bisa jadi lebih rileks dan santai menghadapi hidup.

Ok, saya mau cerita sekarang. Mungkin ini akan menjadi tulisan panjang pertama saya di blog ini. Kalau malas bacanya, tinggalin aja ya, hahaha….

Ih, belom nulis aja saya udah ketakutan sendiri, loh… Ini nulisnya aja pake nangis, hahaha… Terlalu lebay kayaknya diri saya, nih! Hih, jadi sebal sendiri…

Jadi gini ceritanya.

Setelah 2 tahun hidup menyenangkan bersama suam, saya pikir, saya harus segera punya anak, nih. Biar saya punya temen main, suam juga gitu, trus orang sekitar nggak nanya melulu, hidup jadi lebih lengkap dan semua alasan pendukung lainnya. Dan, saya pikir, tahun ini menjadi tahun yang tepat untuk itu, karena kami lagi mencoba pindah ke tempat tinggal yang baru, kerjaan juga udah agak enak, kayaknya semesta mendukung lah kira-kira.

Lalu, karena suam juga ok, maka kami lebih serius dan fokus untuk program punya anak. Kalau sebelumnya kan diusahakan sambil lewat aja, ini agak pakai usaha, nih.

Long story short, saya hamil. Ih, seneng banget! SENENG BANGET! Nggak usah ditanya gimana rasanya, tapi kesenangan ini melebihi segalanya. Lagi-lagi Tuhan baik sama saya. Alhamdulillah. Tahu nggak sih, sebelumnya saya takuuut banget kalau saya nggak bisa hamil. Saya takut banget kalau saya mandul. Saya takut banget kalau suam meninggalkan saya karena saya nggak hamil (walaupun untuk bagian ini dia selalu meyakinkan saya kalau itu tidak akan terjadi, sih… tapi, tetap saja saya takut). Saya takut banget.

Ok, ketakutan bagian itu berarti sudah lewat. Saya senang dan bersyukur Tuhan memberi jawaban atas keinginan saya dan Dia mengabulkannya.

Dalam perjalanannya, ternyata kehamilan ini nggak mudah. Entah karena apa, di dua bulan pertama kehamilan, saya harus bedrest total karena pendarahan dan flek yang datang. Dalam dua bulan itu, pendarahannya datang dua kali dan bikin saya shock. Saya sampai ijin tidak masuk kerja dan tidak siaran dalam waktu selama itu. Kondisi ini bikin saya takut lagi. Belum lagi, belum jauh dari waktu saya pendarahan, seorang sahabat saya kehilangan janinnya karena pendarahan juga dan menyebabkan dia harus operasi. Saya jadi mikir kebanyakan lagi, ketakutan berlebihan lagi. Saya takut kehamilan ini tak berhasil, saya takut akan mengalami seperti yang teman saya alami, takut dan takut dan takut menghantui selalu. Mikir yang enggak enggak. Googling malah bikin saya senewen dengan berbagai cerita yang dibagikan oleh ibu ibu hamil lainnya di luar sana.

Untungnya, ketakutan ini mereda seiring dengan membaiknya kesehatan saya. Alhamdulillah lagi, janin dalam kandungan saya aman, pendarahan dan flek selesai juga, perkembangan janin baik-baik saja, normal. Sampai pemeriksaan terakhir di usia kandungan 16 minggu, semuanya baik-baik saja.

Sebagai orang normal, saya tahu harusnya tidak ada yang perlu saya cemaskan. Segalanya berjalan dengan baik. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja kalau melihat perkembangan yang ada. Dokter juga menenangkan saya dan bilang tidak ada yang saya harus khawatirkan. Perkembangan si dedek bayi sesuai dengan usia kandungannya.

Tapi, dasar film di kepala saya ini muter terus, ada aja yang bikin saya khawatir terus menerus. Setiap mau ke kamar mandi, saya selalu khawatir pendarahan muncul lagi, jadi saya selalu deg-deg-an kalau mau buang air kecil. Biasanya di bulan-bulan awal kehamilan, saya mual dan muntah di pagi hari, tetapi belakangan ini hal itu sudah tidak terjadi lagi dan saya parno si dedek di perut kenapa kenapa (yang mana memang kalau saya baca dan cerita-cerita temen, sih katanya kalau udah 4 bulan usia kandungannya, semuanya jadi lebih enak). Suatu hari seorang teman komentar kalau dulu istrinya pas hamil perutnya kencang dan saya merasa perut saya nggak gitu, lalu saya parno juga kalau si dedek kenapa kenapa. Dan, datanglah berita seorang teman yang anaknya meninggal dunia padahal baru lahir, ahhh, berita ini membuat saya sedih dan ketakutan saya menjadi berlipat ganda.

Bagaimana kalau dedek dalam kandungan saya nggak baik-baik saja? Bagaimana kalau dedek nggak jadi ketemu saya? dan bagaimana bagaimana lainnya. Duh, takut banget. Lalu saya sebal karena jadwal kontrol ke dokter yang tinggal seminggu lagi ini rasanya lamaaaa sekali. Hih.

Ada masa di mana setiap malam, suam selalu mendapat pertanyaan yang sama dari saya. Kesel juga kali dia, ya? ahahaha… Pertanyaan saya selalu begini, “Dedek baik-baik aja ‘kan ya di dalam perut aku?” Yang pastinya dijawab ‘iya, baik-baik saja’. Emangnya mau jawab apa lagi dia 😀

Sekarang di perubahan cuaca yang kalau siang panas banget dan sore hujan banget, saya lagi pilek dan batuk, nih. Sudah beberapa hari, tapi karena nggak boleh minum obat, jadi pasrah sama vitamin dan makanan hangat (harusnya sehat :D). Lalu, keparnoan di diri saya datang lagi. Si dedek gimana ya kalau saya sakit gini? Dia baik-baik saja kan? dan seterusnya dan sebagainya.

Jangan ditanya bagaimana saya mengatasi keparnoan dan mikir berlebihan ini. Mulai dari beribadah (walaupun yah ibadah cetek yang bolong-bolong juga), nanya dan minta diyakinkan oleh suam, konsultasi ke dokter, tapi kadang tetap penasaran jadi googling aja dan parno lagi aja. Huuuussshhhhaaaaahhhh…

Ini baru parno untuk urusan kehamilan yang sedang saya jalani. Belum tentang hal lain yang juga menjadi bagian dari hidup saya. Ahhhh…

Tuhan, hidup saya akan baik-baik saja kan ya?

Apa ya kira-kira yang bisa saya lakukan untuk mengatasi ketakutan dan kebanyakan mikir saya ini? Terus terang cape banget ngurusin film di kepala saya ini. Separuh hati saya sudah mencoba untuk meyakinkan diri saya kalau saya pasti akan baik-baik saja. Tetapi sepertinya separuh diri saya yang lain tetap memilih was was dan belum berhasil diyakinkan. Mungkin saya harus mencari metode yang lain yang sampai hari ini saya belum tahu apa.

Mungkin menuliskan dan mengungkapkan ini di sini menjadi caranya. Mungkin.

Udah, ah… saya tidur dulu ya… capek juga nulis curhat gini, nyahahaha…

 

Related Posts with Thumbnails
Be Sociable, Share!

One thought on “Belajar untuk Memahami Diri Sendiri

  1. Besok kita beli USG..

    Eh, sama jangan lupa yakin dan percaya kalau Tuhan yang baik sekali itu akan menyelamatkan kita. Doa dan serahkan semuanya.. jangan ragu, takut boleh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *