Jan
06
Berjanji Itu Susah, Ya… :(

Kata orang sih, kalau kita udah bilang susah, maka jadinya susah. Harusnya kita bilang mudah, maka segalanya jadi mudah dan bisa dilakukan. Hehe, iya sih…

Tapi kalau untuk konteks berjanji, buat saya, membuat janjinya yang mudah. Realisasi janjinya yang kadang (kalau tidak boleh disebut seringkali) yang susah.

Janji meeting dengan klien. Kadang kitanya yang telat datang, kadang kliennya yang telat. Akhirnya meeting telat atau reschedule untuk meeting di lain hari. Janjinya tak terpenuhi.

Janji makan bareng temen. Kadang kita lupa sama janji itu trus bikin janji lagi sama temen yang lain. Akhirnya temen yang pertama kita korbankan. Ada janji yang tak terpenuhi.

Janji sama bos. Mau menyelesaikan laporan hari ini, tapi karena kebanyakan seru-seruan di social media, jadinya laporan telat dibuat, telat diserahkan. Janjinya tak terpenuhi.

Janji bayar utang sama vendor. Maunya diselesaikan akhir bulan ini tapi karena divisi keuangan kantornya memble, jadinya belum terbayar juga. Janjinya tak terpenuhi.

Janji menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan brief. Karena banyak faktor, jadinya nggak sesuai dan bikin pembuat ordernya kesel. Janjinya tak terpenuhi.

Yaaa, gitu deh. Ada ajalah ya berbagai alasan untuk kita tidak menepati janji yang kita buat sendiri dengan pihak lain. Padahal kan katanya, supaya kita tidak berada pada posisi mengecewakan orang lain soal janji yang tidak dapat ditepati, ada pepatah yang berlaku di mana-mana.

Don’t promise what you can’t deliver

Ok, anggap saja, banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menghindari kesalahan pembuatan janji orang lain ini. Banyak hal yang bisa kita lakukan, mulai dengan bikin reminder di kalender atau di handphone supaya nggak lupa, minta teman mengingatkan kita sebelum hari H, pada saat berjanji bilang Insya Allah (yang harusnya itu sebenarnya berarti 99% iya tapi kadang dipakai untuk “menolak secara sopan”), atau malah memang nggak mau bikin janji sama sekali.

Dengan banyak cara, kita bisa menghindari kesalahan pembuatan janji dengan orang lain.

Tapi, buat saya, rasanya yang paling susah itu bikin janji sama diri sendiri.

Kalau bikin janji sama orang, masih ada rasa nggak enak hati kalau tidak ditepati. Nah, kalau bikin janji sama diri sendiri, banyak sekali pemaafan yang diberikan. Banyak sekali kemungkinan untuk tidak ditepati daripada ditepati. Nggak ada rasa nggak enak kalau tidak ditepati. Nggak ada yang marah kalau janjinya diingkari. Yang ada cuma penyesalan di belakang hari mengapa janji-janji itu tak terpenuhi. Lalu sadar atau tidak sadar, membuat janji lagi yang belum tentu ditepati, hehe…

Begitulah saya sepertinya.

Janji minum obat yang rajin, janji bangun pagi, janji bersih-bersih dan sortir koleksi buku, janji latihan main gitar, janji rajin belajar bahasa, janji lebih akrab dan membuat karya dengan si Janome, janji bikin tulisan, janji baca lebih rajin, janji isi blog rutin. Semuanya janji. Kalau malas, ya lewat aja… 😀

Jadi, tahun 2016 ini mumpung masih baru, pengeeen banget janji untuk tidak lupa dan malas lagi melakukan to do list panjang yang saya punya. Tapi, itu berarti saya bikin janji lagi dan menambah daftar janji yang belum tertepati donk?

Enaknya gimana, nih? Janji untuk nggak banyak bikin janji?

Sudahlah ya… Semoga 2016 memberi saya banyak kesempatan untuk segera melunasi janji-janji saya pada diri saya sendiri. Selamat bersenang-senang, kawan! Jangan lupa buka lagi daftar janjimu, tepati satu persatu. (*ini ngomong sama diri sendiri kayaknya, hahaha)

Related Posts with Thumbnails
Be Sociable, Share!