Kriteria Buku Bagus Menurut Saya

Di hari buku nasional ini *inget-inget ya lia, itu adanya tiap tanggal 17 Mei*, saya agak malas menulis tentang buku-buku apa yang saya baca. He he, bukan apa-apa, karena emang sejak pagi belum baca buku apa-apa kecuali buku how to yang berhubungan dengan kegiatan teknik pekerjaan. Ah, buku wajib karena kerja, gak masuk itungan bukan?

Jadilah saya mau menulis ini saja, mumpung ingat dan karena tadi baru aja ditanya seorang teman.

Bagaimana sih cara saya memilih buku yang ingin saya beli?

Hmm… mengingat-ingat…

Saya itu punya kebiasaan buruk, gak bisa bawa duit atau kartu apapun yang ada isinya ke dalam toko buku. Bawaannya pengen beli tokonya. He he, berlebihan! Tapi serius deh, entah kenapa, setiap ke toko buku, semua buku yang ada di situ tampak perlu dimiliki dan dipindahkan ke kamar saya yang semakin menyempit dan membuat banyak orang ngomel karenanya. (termasuk mbak Mar si asisten bersama yang saya sangat cintai. Mbak Mar siapa? bacalah disini.)

Oke, balik lagi ke kriteria buku yang selalu menggoda untuk dibeli menurut saya, ini dia:

1. Buku itu covernya lucu, menarik, eye catching, typonya gak biasa, atau ada gimmicknya yang nempel disitu. Pasti saya lirik dan kemudian saya mencoba berhitung untuk membelinya.

2. Buku itu ditulis sama orang yang saya kagumi dan saya ingin sekali bertemu dengan penulisnya.

3. Buku itu ada permainannya yang keliatan lucu dan bisa dimainkan kapan saja. Buku tarot dan buku permainan monopoli investasinya Aidil Akbar saya beli karena alasan ini.

4. Buku itu ditulis oleh teman saya.

5. Buku itu calon buku langka. Buku yang desas-desusnya mau ditarik atau paling nggak menuai kontroversi.

6. Buku itu pernah jadi koleksi saya masa kecil, trus saya lupa menaruhnya entah dimana. (yakin ada di Surabaya sih, tapi gak yakin kalau saya ingat lokasinya, he he). Jadi saya mengambil risiko punya 2 buku daripada tak memiliki sama sekali. Buku Totto Chan, buku-bukunya Enyd Blyton, komik Tintin dan beberapa buku yang lain termasuk di dalamnya.

7. Buku yang menurut orang yang sudah baca, termasuk buku yang menarik, walaupun tidak selamanya pendapat saya sama tentang kenikmatan membaca itu, tapi saya tetap membelinya.

8. Buku yang di film kan atau film yang di buku kan.

9. Buku yang menantang saya untuk ilmu yang baru dan membuat saya penasaran bagaimana cara bekerjanya.

10. Buku ringan yang nggak butuh cape-cape berfikir untuk mencernanya.

11. Buku itu diskonnya besar dan nampak saya butuhkan di masa yang akan datang.

Lalu lalu lalu, setelah saya membeli buku-buku dengan segala kriteria diatas, bagaimanakah nasibnya?

*menghela napas persiapan mengaku dosa*

enggak parah-parah amat kok. Banyak juga yang sudah selesai dibaca dengan baik. Tapi ada juga yang jadi buku mogok karena ternyata isi dalamnya tak seindah sampulnya. Ada juga yang bikin mogok karena kertas atau tulisannya tak menarik, bikin cape bacanya. (ini biasanya terjadi juga di buku terjemahan yang parah terjemahannya, atau buku yang ngeditnya ancur lebur).

yah, ada juga sih beberapa buku yang sampulnya belum dibuka, karena antriannya jadi panjang. Kemampuan membaca tak secepat kemampuan menumpuk buku, he he he.

Tapi silakan catat janji saya. Mulai hari ini, saya akan membaca lebih banyak buku dan tak mudah menyerah dengan buku yang tak menyenangkan. Karena saya sebenarnya yakin, setiap buku baik yang menyenangkan atau tidak, pasti ada manfaatnya.

*tapi janji saya ini dengan catatan kalau saya tidak malas atau lupa ya, he he he*

Selamat hari buku nasional, teman-teman. Semoga suatu saat ada buku dengan nama saya terpampang sebagai penulisnya. *toyor lia rame-rame 😛

Related Posts with Thumbnails
Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *