May
06
Suhu, Guru Vs Fans-nya
Apakah anda ingat apa dan siapa yang membuat anda sampai di suatu titik kehidupan?
 
Pasti banyak. Banyak yang terlibat dalam perjalanan hidup kita. 
 
Orang tua. Guru. Teman. Tante. Oom. Musuh atau orang yang merasa memusuhi kita. Bahkan mungkin orang yang tidak kita kenal sekalipun.
 
Selain terlibat, pasti beberapa diantaranya juga memberi inspirasi atau semangat positif dengan sengaja atau juga tidak sengaja.
 
Kalau saya, wuah saya banyak sekali mengagumi orang yang ada di sekitar saya dengan berbagai keahlian dan juga semangat atau pemikirannya yang inspiratif. 
 
Mas Errol Jonathans salah satunya.
 
Bukan, bukan karena dia artis atau penyanyi terkenal. Bukan juga karena saya kenal seluruh keluarganya. Pun bukan karena saya bekerja sama dengan salah satu anggota keluarganya. Tapi, karena memang saya nge-fans berat sama beliau dari dulu. Dari sejak saya belum siaran, belum ada di radio. Lalu saya punya kesempatan menimba ilmu darinya saat ikut pelatihan-pelatihan yang diadakan banyak lembaga. Lalu saya semakin ngefans dan saya semakin ingin berguru padanya, he he he. Saya rasa banyak orang radio yang juga seperti saya, mengagumi dia.
 
Oh satu lagi. Saya sangat suka sama suaranya. Mantap surantab punya. Intonasi dan artikulasi walaupun diluar siaran tetep terjaga dengan baik dan enak didenger. Haduuuh, kapan saya punya suara indah begitu ya…. *mimpi aja lo Lia, ha ha ha*
 
Siapa sih beliau sebenarnya? 
 
Diluar jabatannya sekarang sebagai Direktur Operasional SS Media (salah satu kelompok media yang terbesar di Jawa Timur), saya mengenal beliau sebagai seorang praktisi radio, trainer, suhu, guru, konsultan, penyemangat buat saya.
 
Ngobrol sama Mas Errol (begitu saya biasa memanggilnya), sangat menyenangkan. Selalu saja saya mendapatkan banyak hal baru atau hal menarik dari hasil obrolan itu. Banyak banget topik yang bisa dijadikan obrolan, terutama tentang konvergensi media. 
 
Kemarin saya bertemu lagi dengan beliau. Seneng banget. S E N E N G B A N G E T!!! 
 
Banyak hal baru yang jadi bahan diskusi. Tentang konvergensi media. Tentang trainer masa kini. Tentang penyiar jaman sekarang. Tentang politik. Tentang kegiatan pelayanan kita kepada masyarakat. Tentang kota kita masing-masing. Banyak. Banyak.
 
Ternyata eh ternyata, menurut beliau, media radio itu sekarang, kalau mau bersaing dengan media yang lain, dengan kecepatan teknologi yang ada, harus juga ikut berkembang. Ini menjawab pertanyaan saya tentang apakah sebenarnya radio sekarang tetap bisa bertahan dan tetap dibutuhkan. Mas Errol bilang, radio itu nggak bisa lagi hanya bertahan dengan siaran di gelombang radio tertentu. Tidak bisa hanya mengandalkan itu. 
 
Berdasarkan FGD yang pernah diadakan oleh radio tempat beliau bernaung, sekarang kecenderungannya adalah orang itu lebih banyak bersama internet, bersama blackberrynya. Nah, radio harus mengejar teknologinya juga sampai kesitu. Radio harus mengikuti perkembangan jaman. Radio harus bisa didengarkan di blackberry dengan radio on demand atau semacamnya. Radio juga sekarang sudah harus bisa streaming dan ada videonya. Jaman sekarang radio udah bisa dilihat secara visual, tidak lagi hanya didengarkan. lagu yang didengarkan bisa dilihat video klipnya. Iklan yang sedang diputar bisa juga dilihat visualnya. Itu baru namanya radio masa sekarang. Radio yang bisa ikutan perkembangan teknologi.
 
Yak yak yak. Jadi radio yang masih bertahan dengan konsep lama, harus siap-siap. Mari mengikuti kemajuan jaman atau siap kalah perang.
 
Ternyata eh ternyata lagi nih, he he ini yang membuat saya malu. Saya tanya sama mas Errol, “Mas, gimana sih caranya mempertahankan suara bisa bagus begitu?” Whaa, jawaban beliau bikin saya minder. Ternyata sampai sekarang walaupun sudah tidak siaran dan hanya dipakai untuk memberikan pelatihan bagi orang lain, Mas Errol itu masih latihan senam vokal rutin. Haaa, apaaa? mati guwee!!! Lah, saya udah lama banget nggak senam. Senam vokal yang bikin wajah jadi cupu itu. Hahahaha, ya pantes aja suara saya nggak bisa bagus dan terjaga dengan elegan seperti suaranya Mas Errol itu. Ini hal sepele sebenarnya, tapi kalau kita melakukannya dengan baik si senam-senam vokal itu, bisa bikin kita ngomong di mic nonstop 2 jam tanpa minum dan kualitas suaranya tetap stabil.
 
Huaaah… saya mauuuu… saya mau suara bagus dan mau latihan senam vokal lagi.
 
Topik terus ada. Obrolan tak kunjung selesai. Tetapi waktu terus bergulir. Mas Errol harus kembali ke Surabaya. Saya, disini, tetap memujanya sebagai salah seorang guru idola.  
 
Sampai bertemu lagi ya mas Errol. Semoga tidak pernah bosan memberi pencerahan buat saya, he he.
Related Posts with Thumbnails
Be Sociable, Share!