May
02
Finding The Right Doctor :)

baby-doctor-bearMenemukan dokter spesialis yang tepat, rasanya sama seperti menemukan jodoh. Kurang lebih prosesnya juga sama. Mulai dari perkenalan, lalu coba cari-cari info latar belakangnya atau profilnya, trus lanjut dengan penjajakan, dan ujung-ujungnya kalau nyaman, yaaa hubungan diteruskan sampai selesai.

Cuma bedanya, kalau ini ‘kan yang mencari informasi mayoritas hanya dari pihak pasien aja. Jarang banget pihak dokter menjadi pihak aktif yang juga mencari-cari info latar belakang atau profil pasien sendiri, kecuali lewat ngobrol saat kontrol.

Pengalaman pribadi beberapa bulan ini juga begitu. Cari-cari info, tanya sana tanya sini, ketemuan, trus pendekatan, deh.

Setelah beberapa saat, bertemulah dengan dokter di salah satu rumah sakit langganan. Akhirnya saya memilih untuk berkonsultasi dan berlangganan dengan dokter ini, karena jadwal prakteknya hampir setiap hari, kalau search di google, ada beberapa orang yang juga berkomentar positif tentang dokter ini dan antriannya jelas kalau mau datang konsultasi. Selain itu riwayat kesehatan saya juga ada di situ, jadi tidak usah memulai dari baru. Oh iya, satu lagi. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Pas lah pokoknya.

Singkat cerita, diskusi – konsultasi dilakukan bersama dokter pilihan ini. Sampai akhirnya ternyata ada hal khusus yang terjadi dan menyebabkan saya harus melakukan beberapa perawatan tambahan. Lalu dokternya memberi saya nomer  telepon pribadinya yang bisa saya hubungi. Saya senang. Artinya, kalau saya parno atau punya pertanyaan terhadap sesuatu yang menyangkut kesehatan dan perkembangan saya, ada nomer langsung yang bisa saya hubungi.

Kemudian, beberapa waktu setelahnya, saya beberapa kali menanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan perkembangan kesehatan saya, lewat whatsapp. Jawabnya singkat-singkat dan kadang lamaaa baru dibalas. Saya pikir, ah mungkin karena sedang praktek atau lagi repot atau menurut dokternya pertanyaan saya tidak terlalu krusial untuk dijawab kali ya, jadi jawabnya lama. Tapi kan kesel juga, karena terus terang, ekspektasinya saya kan ya, kalau whatsapp ke dokter, dijawabnya panjang dengan penjelasan yang bikin saya tenang dan kalau bisa dijawab saat saya bertanya, nggak delay terlalu lama gitu, lho…

Sampai suatu hari, saya bertanya sesuatu yang menurut saya penting karena saya parno banget soal hal itu. Whatsappnya siang, centang birunya malam, dan nggak dibalas juga sampai sekarang.

Ih, kesel.

Ih, sedih.

Ih, saya bete.

Akhirnya, saya memutuskan untuk putus hubungan dengan dokter ini dan mencari dokter lain yang bisa menenangkan hati saya dan membuat rasa parno saya menghilang.

Bertemulah dengan dokter berikutnya. Sebelum bertemu, kali ini saya lebih detail mencari info tentangnya. Untungnya banyak teman yang juga sudah pengalaman di dokter yang sama dan memberikan respon yang positif untuk dokter itu. Dan review yang paling memantapkan saya adalah, banyak yang cerita kalau dokter ini ramah, mau menjawab pertanyaan secupu apapun dari pasien, bersedia dihubungi di telepon pribadinya dan merespon dengan cepat. Jadiii, saya memutuskan untuk pindah ke hati dokter kedua. Kayaknya pas untuk mengatasi rasa parno saya yang kadang menurut orang lain berlebihan.

Tibalah saat saya bertemu dengan dokter itu.

Kita kenalan, saling menyebutkan nama. Lalu saya cerita pengalaman dan riwayat perkembangan kesehatan saya dari nol, sambil saya juga cerita tentang parno saya yang berlebihan.

Responnya? Positif bangeeet.

Dia mengajak saya dan suam sama-sama melihat dan cek bareng kondisinya.

Saat periksa, dia memperlihatkan data-data, jadinya kita juga lebih enak lihatnya dan merasa yakin.

Pemeriksaannya nggak buru-buru dan dokter ini dengan sangaaat tenang menjawab semua pertanyaan cupu saya, sambil sesekali bercanda garing 😀

Dan, senangnya, dokter ini menenangkan saya, menghilangkan semua keparnoan saya.

Asik! Saya suka!

Sebelum pulang, dokternya masih nanya lagi, apakah sudah cukup puas? Ada lagi yang mau ditanyakan? Happy?

Nah, ini baru dokter keren!

Semoga hubungan kita selalu menyenangkan ya, dok…

Sampai mobil, langsung bilang sama suam, “Aku mau berhenti ke dokter pertama, kita lanjutin di dokter kedua aja, ya….”

 

Related Posts with Thumbnails
Be Sociable, Share!