Jan
16
Happy Moment – New Playground :P

Setiap orang pasti punya hari atau tanggal spesial yang suatu hari ingin dikenang. Bisa jadi karena hari atau tanggal itu berkesan atau pas di tanggal itu ada momen berharga yang mengubah hidupnya. Pastinya sih, yang ingin kita kenang sesuatu yang menyenangkan ya, yang kayaknya akan asik kalau pas ngumpul diceritakan kembali ke anak cucu (ahseeek :P).

Nah, seperti orang pelupa lainnya, saya harus banyak mencatat untuk mengingat hal-hal penting yang tidak mau saya lupakan (ya, bayangin aja, tanggal anniversary atau tanggal ulang tahun aja kadang saya lupa… 😛 Jadi, karena saya ingin mengenang proses dan happy moment ini, pastinya yang satu ini harus saya catat biar ga lupa). So, saya menulis ini.

Buat saya, tanggal-tanggal penuh cerita itu adalah 16 Desember 2015 dan 9 Januari 2016.

Jadi ceritanya, di pertengahan tahun lalu, kami (saya dan suam) berencana untuk pindah ke hunian baru, hunian yang memiliki area bersenang-senang baru yang “lebih besar”, lebih punya ruang buat gerak, lebih enak kalau ngajak orang tua nginep atau teman-teman kumpul, lebih punya ruang untuk melakukan hobby masing-masing. Alhasil, kami berdua menjadwalkan untuk keliling-keliling mencari hunian yang pas untuk kebutuhan kita. (Sebenarnya, tanpa dicari di depan mata juga ada sih hunian yang pas, cuma harga belinya aja yang ga sama dengan isi duit di kantong, hehe…).

Akhirnya, kami bikin list kira-kira daerah dan hunian seperti apa yang akan mungkin kami miliki. 

Mulai dari wilayahnya. Dengan uang yang terbatas, rasanya tidak mungkin di tengah kota, jadi kami lupakan tuh daerah Pondok Indah dan sekitarnya, Menteng dan sekitarnya, hahaha… Kami memilih untuk mencari rumah di daerah penyangga Jakarta, seperti Cibubur, Bintaro, Tangerang Selatan dan sekitarnya. Karena kami terbiasa di wilayah Selatan, jadi arah ke timur dan utara tidak menjadi pilihan.

Setelah itu kami mulai beberapa kali datang ke pameran perumahan, tanya-tanya informasi dan mengambil brosur di booth yang kami rasa cocok dengan kebutuhan kami. Karena kami tidak ingin tinggal di apartemen dan memilih rumah di cluster/kompleks tertutup terbatas yang ada halamannya serta masih bisa ‘say hi’ dan bermain dengan tetangga kanan kiri, maka kami tidak berhenti dan mencari informasi di booth yang isinya jualan apartemen. Setelah cukup lapar dan haus, kami pulang membawa banyak brosur 🙂

Mulailah, dengan berbekal brosur-brosur yang isinya penuh peta dan angka yang cukup membuat pusing, beberapa kali weekend, kami menjadwalkan waktu berkeliling untuk survey ke lokasi yang disebutkan dalam brosur. Perjalanan ini mengorbankan waktu makan enak, nonton dan ke mall yang biasanya kami lakukan kalau hari libur. (Kata suam soalnya saya anak AC dan mall banget. Bawaannya sakau kalau nggak ketemu sama 2 hal itu :D). Tapi, demi mendapatkan hunian impian, mall yang berAC dingin saya tinggalkan untuk sementara waktu.

Pada saat survey, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Akses ke sana, fasilitas di sekitarnya (rumah sakit, tempat belanja, tempat makan), transportasi bila harus naik kendaraan umum, arus lalu lintas dan prediksi kemacetannya. Sambil survey, sambil membayangkan gimana rasanya kalau tinggal di sana. Dari beberapa tempat yang kami datangi, ada wilayah-wilayah tertentu yang akhirnya kami rasa tidak cocok untuk kami. Lebih karena akses, transportasi dan kemacetannya, sih.

Akhirnya, setelah dua atau tiga minggu keliling ke sana sini, kami menemukan hunian yang cukup membuat kami jatuh cinta. Ada pak satpam dan akses masuk yang terbatas. Di jalan raya menuju lokasi, banyak banget supermarket dan tempat makan yang enak. Transportasi dan kendaraan umumnya cukup banyak. Jarak ke kantor tidak terlalu ajaib alias nggak terlalu jauh. Rumahnya cukup memenuhi kebutuhan kami. Rumahnya sudah jadi dan bisa langsung ditempati. Plus, mas marketingnya baik hati dan cukup helpful. Walaupun tetap macet juga sih menuju ke arah sana, tapi sepertinya kemacetannya masih bisa ditolerir. Jadi, kami memutuskan untuk berhenti survey dan melakukan proses pembelian rumah di tempat itu.

Karena kami tidak punya uang cash untuk melunasi pembelian rumah ini, jadi kami akan membelinya dengan bantuan KPR dari bank.

Long story short, begini proses yang kami lakukan:

  1. Bayar DP sesuai dengan yang ditetapkan developer (kalau tidak salah ingat, punya kami bisa dicicil 3x dan harus lunas sebelum akad kredit KPR)
  2. Isi-isi formulir dari bank yang diusulkan oleh developer (untuk proses ini lumayan ribet dan sempat bikin saya sedih karena bank pertama yang kami tuju tidak menerima pengajuan KPR kami)
  3. Tunggu tunggu tunggu sampai ada bank yang akhirnya menyetujui proses KPR kami (alhamdulillah banget! Thanks God for this happy moment)
  4. Melunasi DP ke developer
  5. Akad kredit di notaris bareng sama pihak bank dan developer
  6. Serah terima rumah
  7. Checklist beberapa perbaikan (karena rumah yang kami beli adalah rumah yang sudah jadi)

Yeay! Akhirnya 2016 punya ‘playground’ dan rumah baru! Senangnya to the max. Pusingnya to the max juga.

Tapi kata Bapak,

Harusnya bersyukur diberi Tuhan jalan yang mudah untuk mendapatkan rumah. Udah dikasih rumah kok sekarang sambat soal bayar cicilannya. Nggak boleh itu. Dijalanin aja. Pasti bisa dan pasti ada jalannya.

Iya juga, sih. Ok, nggak jadi pusing. Berdoa, berusaha dan cari uang aja yang banyak biar rumahnya cepat lunas. Hehe…

Tuhan saya baik sekali. Awal 2016 diberi ‘happy moment’ yang bikin super happy.

Related Posts with Thumbnails
Be Sociable, Share!