Dec
19
Memupuk Kenangan Menyenangkan Bersama Ata

Sebelum cerita tentang urusan memupuk kenangan dengan Ata, saya mau cerita sedikit, nih. Saya tuh termasuk orang yang melankolis banget, hehe… Paling tidak, itu menurut saya dan orang-orang terdekat saya. Segala dipikirin, segala dikenang. Kerjaannya memupuk kenangan di sana sini dalam berbagai bentuk, baik di printilan kecil-kecil (makanya saya struggling banget ni kalau urusan beres-beres ala KonMari, hehe), ngumpulin foto, ngumpulin buku-buku diary lama, surat-surat kerjaan masa lalu, dan banyak lagi.

Ga cuma itu sih, urusan memupuk kenangan versi saya itu, artinya juga banyak yang terkumpul di ingatan, sulit dilupakan rasanya. Dan saya termasuk orang yang lebih ingat “rasanya” ketimbang “namanya”.

Misal, saya ingat kalau saya pernah bikin diajarin sama kakak pramuka untuk bikin sambal bajak yang rasanya enak dan sampai sekarang saya ingat bagaimana waktu itu kami membuat sambalnya, tapi saya lupa nama kakak yang mengajarkan saya itu. Saya ingat rasa nasi goreng di kereta api Surabaya-Jakarta (yang sekarang udah aneh rasanya, ga otentik lagi), saya ingat seorang kakak kelas pernah ngasih saya bunga (dan saya benci banget dikasih bunga) tapi saya lupa siapa nama si kakak yang ngasih itu.

Rasa makanan, termasuk yang  paling banyak nih terkumpul di ingatan. Termasuk rasa salah satu cookies andalan saya, bungkusnya plastik hijau, ada gambar kelincinya, bulat-bulat gitu bentuknya. Kalau digigit kres kres nyes karena lumer. Kalau ngambil di supermarket, ga mungkin ketuker, karena cookies yang seperti ini hanya satu, the one and only si cookies bungkus hijau itu.

Saya pernah mengenalkan cookies ini juga ke Ata. Lumayanlah, buat sekalian ngajarin Ata motorik halus, bagaimana cara mengambil makanan yang bentuknya kecil-kecil, bagaimana caranya menggenggam supaya cookiesnya nggak jatuh, kalau jatuh yaaa bagaimana cara dia mengambil lagi dan tentu saja menikmati rasanya. Sambil menyelam minum air lah kira-kira, hehe… sedikit-sedikit sambil main dan makan, bisa melatih Ata juga. 

Ok, itulah kira-kira urusan membangkitkan kenangan-kenangan ini kalau di saya. Haha… Tapi ya gitulah, saya suka mengumpulkan “rasa” yang pernah saya punya di dalam momen-momen kehidupan yang saya lalui. 

Begitu juga dengan kebersamaan saya bareng Ata. Dalam rencana saya, ingin sekali saya mengumpulkan sebanyak-banyaknya kenangan tentang kebersamaan kami dalam berbagai momen.

Walaupun kadang saya masih sibuk kerja, saya tetap ingin Ata punya momen bersama saya yang bisa dia kenang. Makanya sedapat mungkin, dengan waktu yang apa adanya, saya mengulik ini dan itu biar punya kesempatan mengumpulkan kenangan bersama. Harapannya sih, kenangan-kenangan yang diingat Ata tentang kebersamaan kami adalah kenangan yang menyenangkan. 

Maka, untuk mewujudkan hal itu, saya mulai keidean buat bikin kegiatan di depan rumah yang dikasih nama “Sore-Sore di Rumah Ata”. Idenya adalah main sore bareng tetangga dan teman-teman Ata di teras rumah. Macam-macamlah kegiatannya. Membuat tempelan ini dan itu, main mie warna, main cat, dan lain-lain. 

Beginilah kira-kira kegiatan kami. Kadang bermain dan berlatih motorik kasar, kadang motorik halus, yaaa bermain saja sih intinya. Semua dilakukan dengan santai dan tergantung kesiapan di hari itu. Kalau di momen-momen spesial, saya mengusahakan untuk mengundang tamu, yang bisa menambah seru kegiatan bermain kami. Seperti waktu itu, bermain, bernyanyi, menari, dan bercerita bersama Kak Kanya dan Kak Anggi. Seruuu…

Menari, Menyanyi, Bercerita bersama Kak Kanya dan Kak Anggi

Biasanya, kalau ada pisang goreng atau ada stok cookies yang saya punya, suka saya taruh juga di teras buat jadi cemilan bersama. Walaupun suka bingung, sih, enaknya beli cookies apa ya, yang anak-anak suka, dan bermanfaat juga buat mereka.

Daaan, beberapa minggu lalu, saya baru tahu, kalau ternyata cookies bulet-bulet kecil andalan saya itu, punya “saudaraaa”, punya “adik” yang dibuat dari tepung sari pati kentang juga dengan manfaat yang lebih pas buat anak-anak usia 1-5 tahun. Bebas gluten, ada campuran madu, DHA dan minyak ikannya. Namanya MONDE BOROMON COOKIES. Packagingnya lucu, trus di dalamnya masih dibungkus kecil-kecil lagi, jadi ga sayang kebuang kalau tidak habis dimakan. Whoaaa, udah pasti jadi salah satu stok saya, nih. Sebelum saya bagi-bagiin ke teman-temannya Ata, kayaknya saya harus tes buat Ata dulu, nih. Saya udah cobain juga sebelumnya. Teksturnya pas, krenyes krenyes nyes, gampang leleh kena air liur. Pas banget. 

Minggu lalu, sehabis Ata main di mal, dalam perjalanan pulang, saya tawarkan si MONDE BOROMON COOKIES ini ke dia. Whaa, ternyata dia langsung tertarik! Bungkusnya lucu, sih… Jadi gampang nawarin ke dia. Jadilah, si Boromon Cookies ini menemani dia sambil pulang ke rumah. Dia makan satu butir demi satu butir.

Seperti biasa, kalau di jalan, saya dan Ata selalu ngobrol tentang ini dan itu. Dia sih yang sering saya tanya-tanya, sambil mengenalkan berbagai hal yang terlihat. Nah, karena sambil makan MONDE BOROMON COOKIES, jadi yaaa saya sambil tanya-tanya aja tentang cookiesnya. Bentuk cookiesnya apa, cookiesnya kecil-kecil atau besar-besar, besar mana si cookies sama ibu jari Ata, dan rasanya gimana. Asik, jadi punya bahan obrolan, macet tak terasa.

Fix lah, untuk kegiatan Sore-Sore di Rumah Ata berikutnya, suguhannya MONDE BOROMON COOKIES aja, deh. Praktis, bergizi dan enak. Bisa dibeli lewat online pula di sini. Gampang jadinya buat beli stoknya. 

Terima kasih, lho Monde… Karena sudah ada Boromon Cookies, jadi saya dan Ata punya cookies enak sendiri-sendiri. Ata dengan si #MondeBoromon nya sudah pasti dan saya dengan si Potato Boro bungkus hijau, hehe… 

Related Posts with Thumbnails
Be Sociable, Share!